Menghitung Hari Pilkada, KPK Ingatkan Masyarakat Tidak Memilih Pemimpin Berpotensi Korupsi

 
Senin, 11/06/2018 13:36 WIB
Menghitung Hari Pilkada, KPK Ingatkan Masyarakat Tidak Memilih Pemimpin Berpotensi Korupsi (Ilustrasi: ) foto ilustrasi

Lenteranews – Hanya menghitung hari , Event Demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang akan diikuti oleh 171 daerah di Indonesia. Dimana event Demokrasi pemilihan  Kepala Daerah telah ditetapkan oleh KPU pada 27 Juni 2018.

 Menyikapi phenomena demokrasi didaerah tersebut , Kembali Komisi Pemilihan Umum (KPK) melalui Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang mengingatkan kembali kepada khalayak masyarakat luas  agar memilih pemimpin yang bersih dari korupsi.

Guna menentukan arah pembangunan lima tahun kedepan didaerah, Masyarakat diminta selektif dan cerdas dalam menetukan pilihannya, Sehingga masyarakat dapat memahami dengan detail latar belakang calon pemimpin hingga dipastikan bebas dari korupsi.

"Masyarakat jangan hanya melihat dipermukaannya saja, Memilih pemimpin itu harus dengan pikiran hati dan perbandingan yang detail satu calon dengan calon yang lain," kata Saut Situmorang, Senin (11/6/2018).

Saut beranggapan , Masih banyaknya calon kepala daerah yang lahir dari sekadar janji-janji, atau melakukan cara yang tidak halal yakni membagi-bagikan uang (politik uang) kepada masyarakat, berpotensi menjadi pemimpin yang korup.

"Beban berat itu bisa datang dari janji-janji yang tidak realistis, politik uang, tidak konsisten kata dan perbuatan," terangnya.

Dengan masih maraknya hal tersebut, Saut berharap masyarakat dapat berperan serta aktif dalam penyelenggaraan pilkada yang bersih. Salah satunya yakni melaporkan apabila ada politik uang ataupun ada calon kepala daerah yang terbukti melakukan korupsi.

"Wajib dilaporkan kalau ada yang main money politics ke pihak yang kompeten," tandasnya .

Seperti diketahui KPK sudah memproses sejumlah calon kepala daerah yang diduga terlibat kasus korupsi. Bahkan  belum lama ini KPK juga menangkap calon kepala daerah petahana di Tulungagung karena diduga menerima suap dari pengusaha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Okezone

Berita Lainnya