Diduga Cemari Air, Tanah dan Udara, Pabrik Pengolahan Limbah Plastik Meresahkan Warga Sepatan

 
Minggu, 2/09/2018 11:53 WIB
Diduga Cemari Air, Tanah  dan Udara, Pabrik Pengolahan Limbah Plastik Meresahkan Warga Sepatan (Ilustrasi: ) Kondisi Pabrik pengolahan limbah plastik di RT 01,RW 02 , Desa Sarakan , Kecamatan Sepatan, yang diduga tidak menggunakan standar kesehatan lingkungan

Lenteranews, TANGERANG – Beroperasinya pabrik pengolahan limbah plastic di RT 01,RW 03 , Desa Sarakan , Kecamatan Sepatan , Kabupaten Tangerang, Banten , Keberadaannya telah meresahkan warga sekitar.

Pasalnya selain menggangu ketentraman lingkungan yang dihasilkan dari  bisingnya suara mesin pabrik, dampak vitalnya  masyarakat harus  merasakan pencemaran lingkungan, diantaranya terkontaminasinya air tanah sebagai bahan baku kehidupan warga disana , serta  pencemaran udara  yang membuat sesak pernapasan.

Didi salah seoarang warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan pabrik pengolahan limbah plastic mengungkapkan,   Dirinya beserta keluarga sangat merasakan dampak negative yang ditimbulkan denganberoperasinya pabrik pengolahan limbah plastic tersebut.

Air Limbah pabrik pengolahan limbah plastik berbusa dan berbau

“Sebelumnya kualitas air tanah  bisa  digunakan untuk kebutuhan hidup sehari – hari, bahkan sangat layak dikonsumsi, namun pasca beroperasinya pabrik, air tanah menjadi  berbau  dan berbusa, sehingga kita menjadi  takut untuk menggunakannya,” Ungkap Didi Pada Lenteranews, dengan penuh kegelisahan,” . Minggu(2/09/2018).

Senada dengan Didi, Ma Nya , seorang ibu paruh baya  yang rumahnya hanya dibatasi pagar pabrik, mengungkapkan penderitaan yang sama, Dirinya mengaku sering mengalami gangguan perpanasan yang diduga disebabkan oleh terhisapnya debu pengolahan plastic .

“Saat ini saya sering mengalami gangguan sesak napas, mungkin karena menghirup debu plastic yang bertebaran hingga kedalam rumah,” Kata Ma Nya.

Pantauan Lenteranews dilokasi , Nampak serpihan limbah plastic hasil  pengolahan berserakan dihalaman rumah warga , bahkan kondisi tanah milik warga sekitar menjadi gembur yang diduga terkontaminasi oleh pembuangan air limbah pengolahan pabrik. Dan ketika menyambangi lokasi Pabrik tidak nampak identitas perusahaan  , bahkan kondisi bangunan pabrikpun terkesan asal , dimana kontruksi  fisik bangunan  yang membatasi  pemukiman warga dengan pabrik hanya menggunakan dinding seng  setinggi kurang lebih dua Meter.

Merasakan lingkungannya sudah tercemar , Para wargapun berharap ketegasan  Pemerintah untuk segera melakukan penutupan , Karena dikhawatirkan dampak yang ditimbulkan akan lebih besar lagi terhadap keberlangsungan hidup warga disana.

 

 

Berita Lainnya