Dolar Naik Pengrajin Tempe Panik

 
Rabu, 5/09/2018 11:44 WIB
Dolar Naik Pengrajin Tempe Panik (Ilustrasi: ) Jefri Pengrajin Tempe Pasar Sepatan

Lenteranews, TANGERANG – Terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga berada  dikisaran angka Rp. 15.000,00 perdolar Amerika, Membuat kepanikan para pengrajin tempe yang menjajakan produknya di Pasar Sepatan, Kecamatan Sepatan , Kabupaten Tangerang , Banten.

Jefri salah seorang pengrajin tempe disana mengungkapkan kegalauannya terhadap naiknya nilai tukar dolar saat ini.

“Dikhawatirkan naiknya dolar akan menjadi faktor penghambat kita berproduksi , pasalnya bahan baku kacang kedelai yang kita gunakan masih import yang harganya  bergantung pada nilai tukar dolar, dan kalau nilai tukar dolar terus naik, bisa dibayangkan akan terjadi kenaikan pada bahan baku kedelai, yang berakibat menambah beban permodalan,” Keluh Jefri pada Lenteranews dengan tatapan hampa, Rabu,(5/09/2018).

Bukan hanya mengkhawatirkan naiknya harga kedelai pasca naiknya nilai tukar dolar terhadap rupiah, Jefri kembali dirundung kecemasan berkurangnya daya beli  masyarakat terhadap tempe.

“Biasanya kalau kacang naik, imbasnya kita sangat merasakan sendiri, Ketika kita menyiasati dengan menaikan harga jual atau mengurangi volume tempe , Maka ketika itu juga daya beli masyarakat menurun terhadap tempe, yang berujung pada tidak terserapnya jumlah produksi hingga kita mengalami kerugian,” Cemas Jefri.

Terhadap nilai jual tempe dan harga  bahan baku yang digunakan saat ini , Jefri mengungkapkan,”Untuk saat ini kita masih menggunakan stok kedelai yang masih menggunakan harga lama , yakni Rp.7.500,00 Kg dengan nilai jual tempe dengan berat 600 gram dihargai Rp. 6.000,00, sedangkan tempe dengan berat 700 gram dijual dengan harga Rp. 7.000,00, dengan harga jual tempe saat ini sudah menurunkan daya beli masyarakat, bagaimana kalau harga tempenya dinaikan, bisa semakin turun daya beli masyarakat,” ungkap Jefri mencoba menahan kecemasannya.

Guna menjaga keberlangsungan usaha yang sudah dijalankan turun temurun tersebut , Jefri bersama para pengrajin tempe lainnya hanya bisa berharap kepedulian pemerintah menjaga stabilitas harga kedelai.

“Semoga pemerintah bisa mengambil kebijakan yang bisa memberikan solusi terhadap keberlangsungan para pengrajin tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai import,” Harap Jefri mencoba membuang kecemasannya.

 

Berita Lainnya