Man Jadda Wa Jadda Kampung Bekelir

 
Minggu, 25/03/2018 12:04 WIB
Man Jadda Wa Jadda Kampung Bekelir  (Ilustrasi: ) Kampung Bekelir

Lenteranews, TANGERANG - Lingkungan RW 01 Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang sebelumnya tampak memprihatinkan. Sungguh ironis memang, sebab wilayah ini berdekatan dengan Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta.

Bahkan pemerintahan setempat memvonis daerah ini sebagai kampung kumuh. Kondisinya pun begitu menjijikan.
Banyak warga sekitar yang membuang sampah sembarangan. Terlebih lokasinya yang berdekatan dengan bantaran Sungai Cisadane.
Selain sampah yang berantakan, gaya hidup warganya pun terbilang liar. Praktik judi, jual beli narkoba, serta tawuran kerap menghiasi wilayah tersebut.

Sungguh teramat mengkhawatirkan memang. Padahal masyarakat sekitar terbelenggu dengan angka kemiskinan.
Mayoritas di wilayah ini berprofesi sebagai pedagang. Mereka pun kerap dikejar – kejar rentenir yang meminjamkan uang untuk modal usahanya.
Namun potret muram itu sudah jauh berbeda saat ini. Kampung kumuh yang menjijikan ini dipersolek menjadi penuh warna – warni.
Kampung Bekelir, begitu lah sebutannya. Kini lokasi tersebut menjadi destinasi wisata yang populer seantero Tangerang.
Bahkan keberadaannya sudah mendunia. Baik itu turis domestik dan mancanegara berduyun – duyun melancongi Kampung Bekelir ini.
“Perbandingannya jauh jika dibandingkan dengan dulu. Dulu namanya masih Kampung Babakan. Kumuh, kotor, pokoknya enggak enak dilihat,” ujar Ketua RW setempat, Muhammad Kholik di Kampung Bekelir, Kota Tangerang, Sabtu (24/3/2018).
Perubahan drastis pun dirasakan oleh warga lainnya. Ratusan rumah penduduk sekitar dipercantik.
Dinding sampai atap rumah dicat warna – warni. Berbagai macam gambar menghiasai Kampung Bekelir.
“Sekarang banyak yang datang, suka foto – foto di sini. Sebelumnya banyak sampah, sekarang sudah bersih,” ucapnya.
“Warga juga jadi sadar, buat ngerawat kampungnya. Kemaren – kemaren ibu – ibu biasanya kalau ngejemur baju sembarangan aja. Bapak – bapaknya juga buang sampah asal aja. Sekarang mulai berubah,” sambung Kholik.
Hal senada disampaikan Ikbal (27) satu dari pemuda setempat. Selain kondisi infratruktur, lambat laun pola pikir warga sekitar pun turut berubah.
“Sekarang alhamdulillah sudah tidak ada beranteman atau tawuran – tawuran lagi. Judi sama narkoba juga sudah menjauh,” kata Ikbal.
Kini masyarakat bergotong royong untuk melestarikan kampungnya yang menjadi objek wisata tersohor. Terlebih dalam menghidupkan roda perekonomian serta kesejahteraan warga.
“Sejak jadi tempat wisata, dagangan juga jadi laris. Lumayan penghasilannya sekarang, jadi ramai yang beli,” ungkap Suganda, pedagang jajanan batagor di Kampung Bekelir.
Ide Original
Adanya Kampung Bekelir merupakan ide original dari masyarakat setempat. Ditopang juga oleh para seniman serta budayawan lainnya.
Hal tersebut diungkapkan langsung inisiator Kampung Bekelir yakni Ibnu Jandi. Ia menjelaskan pembangunan objek wisata ini sekaligus bertujuan untuk mengubah pola hidup masyarakat yang kumuh.
“Nama Bekelir itu dari kata dasar kelir, yang artinya menggambar. Menggambar dengan beraneka warna. Saya menawarkan konsep, dan warga bersama seniman lainnya ikut menggambar bersama,” imbuh Jandi.
“Pemkot Tangerang memvonis kampung ini sebagai wilayah kumuh sedang. Maka dari itu kami bersama – sama membantu untuk mengubahnya. Tidak hanya infratruktur saja, tetapi juga gaya hidup masyarakatnya yang mesti berubah. Tujuannya untuk kebaikan kita bersama,” tambahnya.
Ada sekitar 300 rumah yang dilukis. Para pelukis atau seniman street art tersebut berasal dari sejumlah daerah.
Mulai Bandung, Jogja, Semarang, bahkan Filiphina. Mereka pun dengan suka cita membuat mural di dinding – dinding rumah warga.
Bukan sembarang gambar yang dibuatnya. Berbagai gambar tematik dilukis dengan memiliki nilai budaya serta ikonik Tangerang.
Seperti Lenggang Cisadane, Gambang Kromong, Cokek, Laksa, Masjid Al Adzhom, Bandara Soekarno Hatta, dan masih banyak lagi yang lainnya. Identitas budaya dan kearifan lokal tertuang dalam media lukisan tiga dimensi serta grafiti.
“Ini kami bangun bersama – sama tanpa menggunakan APBD. Sponsornya dari pabrik cat yaitu Pasific Paint,” papar Jandi.
Kaum Milenial
Kampung Bekelir menjadi destinasi wisata yang instagramable. Dalam arti layak dipotret atau diunggah ke media sosial.
keberadaan lokasi Kampung Bekelir berada di pinggiran Sungai Cisadane dengan embusan semilir angin yang sejuk. Terpampang tulisan ‘Kampung Bekelir’ berukuran besar pada papan di area pintu masuk.
Uniknya di sekitar tersebut terdapat gambar buaya tiga dimensi. Seolah – olah pengunjung dapat menikmati sensasi lukisan itu seperti nyata.
Tak hanya tematik budaya dan kearifan lokal yang terpasang di dinding – dinding rumah warga. Gambar masa kini pun banyak bermunculan.
Seperti halnya Detektif Konan, Sonic, mau pun super hero lainnya. Suasana juga semakin sejuk, ketika ratusan payung warna – warni berada di atas langit – langit Kampung Bekelir.
“Ini instagramable banget, cocok lah buat kaum mileneal,” tutur Nina (23) satu dari pengunjung saat dijumpai di Kampung Bekelir.
Menurutnya banyak spot untuk dijadikan berfoto ria. Wisata kuliner di lokasi pun menggugah selera.
“Seru, tadi aku foto di gambar kupu – kupu,” ucap dara berparas cantik itu.
Hal selaras disampaikan oleh Fauzi (20). Ia menyempatkan waktu untuk melancongi Kampung Bekelir ini.
“Penasaran aja mau lihat – lihat. Banyak juga anak muda yang datang, liburan sekalian cuci mata,” papar Fauzi tersenyum renyah.

Berita Lainnya