KARTINI DI PELATARAN JAMAN

 
Selasa, 21/04/2015 12:08 WIB
KARTINI DI PELATARAN JAMAN (Ilustrasi: ) KARTINI DI PELATARAN JAMAN

LenteraNews - Lentera Opini - Setiap tanggal 21 April di tahun-tahun belakangan ini salon kecantikan selalu buka lebih awal, jam 4 dinihari sebelum adzan subuh berkumandang ruangan salon sudah terang benderang, tak berapa lama kemudian rombongan ibu-bu dengan anak-anaknya (baik laki-laki maupun perempuan) mulai berdatangan, menempati antrian untuk mendapatkan pelayanan untuk anak-anaknya yang masih setengah ngantuk, anak-anak yang perempuan di dandani sedemikian rupa sehingga terlihat seperti ibu-ibu nya dengan riasan wajah dan tidak ketinggalan konde yang menjulang ke atas atau mendorong ke belakang, anak-anak yang laki-laki diberi sedikit bedak ditambahkan coretan di bawah hidung yang mirip kumis.

Sebagai seorang Babeh dari seorang anak laki-laki (yang untungnya belom sekolah) ada sedikit rasa gatal di pinggir otak saya (atau lebih tepatnya kekhawatiran) melihat kondisi yang sedemikian ini, kekhawatiran ini didasari oleh rasa ke-Babeh-an saya terhadap kondisi ke depan anak saya, apakah nanti dia akan dipaksa mengikuti arus kegilaan yang ada seperti saat ini, dimana UPACARA-UPACARA/PERAYAAN-PERAYAAN lebih penting daripada mengupas kenapa perayaan-perayaan/upacara-upacara itu dilaksanakan.

Dari duapuluhan lebih guru-guru (baik laki-laki atau perempuan) yang saya tanyakan, hampir 90 % belum pernah membaca karya fenomenal Sang Pembawa Cahaya Perempuan Indonesia itu atau mengupas tuntas Biografinya, sementara beberapa persen sisanya sudah membaca tapi kurang memahami isi bacaannya.

Dari kondisi diatas dibandingkan dengan kondisi subuh di 21 april timbul persepsi pribadi saya bahwa mereka (para guru) sedang MENJILAT KULIT tanpa MENGUNYAH ISI sehingga makna perayaan hilang ketika matahari merangkak naik di 21 April , dan celakanya kondisi ini (menjilat kulit) ditanamkan kepada murid-muridnya yang masih belia, mungkin saja ada beberapa guru yang BAIK dan SHOLEH yang berusaha sekuat hati dan tenaga untuk membumikan makna Kartini yang sejatinya, namun sistem membuat mereka tidak berdaya.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan para guru, namun sebagai sebuah alternative lain dari sudut pandang yang selama ini terbentuk tentang 21 April. Karena walau bagaimanpun Saya dilahirkan dari keluarga GURU, kakak, adik bahkan Bapak saya (semoga Allah merahmati kalian semua) adalah seorang guru, bahkan sepupu-sepupu saya pun adalah seorang guru.

Jadi mari kembali kita bumikan KARTINI di ruang-ruang yang semestinya, tidak hanya di salon-salon ketika adzan subuh baru saja lewat, ceritakan kembali pada anak-anak bangsa tentang perjuangan sang obor dalam merebut pendidikan untuk kaumnya, tentang pencariannya terhadap agama (Islam) yang diyakininya, tentang kepatuhannya terhadap orang tua dan suaminya, tentang keberaniannya untuk keluar dari kenyamanan kehidupan kebangsawanannnya untuk membuka sekolah bagi para perempuan masa itu, tentang keteguhannya menjaga adat budaya dengan bumbu kesetaraan ditengah lingkungannya.

Semoga Kartini-Kartini kekinian kembali pulang kepada kesejatiannya, semoga Allah tetap menjaga kebaikan ditengah perayaan 21 April masa kini.

Tulisan ini didedikasikan untuk Kartini, Kartika, Angelina, Michelle, Iyem, Ijah, Kartono, Michael, Yusuf, Udin dan lain-lain, terspesial untuk seluruh saudaraku yang menjadi ujung tombak pendidikan negeri ini.

Wassalam

 

Miing (yang subuh-subuh otaknya Gatel)

Berita Lainnya