Hegemoni Pilkada Dan Sepak Bola

 
Sabtu, 13/01/2018 21:40 WIB
Hegemoni Pilkada Dan Sepak Bola (Ilustrasi: )

Lenteranews,Tangerang - Berbagai hajatan besar dihelat di tahun 2018. Mulai dari Pilkada Serentak, Asia Games, dan Piala Dunia. Bisa dibilang 2018 ini tahunnya politik dan sepakbola.

Menyikapi fenomena tersebut,  Pemerhati Budaya Universitas Padjajaran (Unpad) Andika Panduwinata, Menganologikan  Hegemoni Pilkada dengan sepakbola. Melihat kesamaan unsur kompetisi, dengan adanya rival, fans, animo masyarakat, kemenangan, kekalahan, pengadil, dan juga fairplay. Ditambah dengan scenario  tekhnik permainan , dan formasi juga karakter permainan dari tim itu sendiri.

Seperti diketahui Pilkada serentak tahun ini diikuti 171 Daerah di Tanah Air. Termasuk di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. Namun ada yang berbeda  pada kedua daerah tersebut dalam merayakan pesta demokrasi lima tahunan ini. Dimana keduanya secara bersamaan hanya diikuti calon tunggal.  Untuk Pilkada Kota Tangerang Pasangan Arief R. Wismansyah - Sachrudin kembali maju.  Begitu juga calon incumbent lainnya yakni Ahmed Zaki Iskandar - Mad Romli yang berhasrat ingin memimpin Kabupaten Tangerang dalam lima tahun ke depan.

Peluit pun sudah ditiup oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tanda kick of berlangsung. Kedua pasangan calon petahana itu telah mendaftar dalam pagelaran Pilkada Tangerang. Bahkan seluruh partai politik mengusungnya. Sehingga baik itu Arief - Sachrudin dan Zaki - Romli tak ada lawan dalam hajatan besar ini.

Memang sungguh hambar rasanya. Bila dibayangkan ini kompetisi sepakbola, penonton pun kecewa. Animo masyarakat yang sudah menanti - nanti pesta demokrasi ini mati rasa.

Jika pasangan ini diibaratkan dengan tim sepakbola, maka mereka menang WO. Arief - Sachrudin mau pun Zaki - Romli sudah memasuki gelanggang Stadion. Dan diiringi oleh sang pengadil yakni KPU. Seluruh penonton di tribun Stadion penuh sesak. Mereka menanti - nanti jalannya pertandingan akan segera dimulai.

Namun nyatanya, tim tersebut tak ada rival untuk bermain. Lantas apa yang didapat oleh para penonton yang hadir? Mereka sudah membeli tiket mahal - mahal untuk menyaksikan pertandingan. Pembelian tiket ini bisa disinonimkan dengan pembayaran pajak masyarakat, yang anggarannya untuk penyelenggaraan Pilkada.

Berbeda jauh dengan kompetisi ketat dalam turnamen - turnamen sepakbola lainnya. Sang pemenang harus menempuh jalan terjal untuk membawa piala sebagai title juara. Penonton pun puas, dan tak memikirkan harga tiket yang selangit jika jalannya pertandingan memang berlangsung seru serta fairplay.

Dapat ditengok dalam perhelatan Piala Dunia 2014 kemarin. Der Panzer ke luar menjadi kampiun setelah susah payah menekuk Tim Tango di tanah Rio de Janeiro. Gol semata wayang Mario Gotze mengantarkan timnya merengkuh gelar juara dan menjadi sorotan seantero penduduk muka bumi ini.

Khlayak penonton pun terhibur. Terlebih banyak kejutan dalam perhelatan kompetisi tersebut. Sulit dibayangkan Jerman mencukur habis Tim Samba dengan skor 1 - 7 di babak semifinal. Padahal Neymar dan kawan - kawan diunggulkan menjadi juara, lantaran Brazil selaku tuan rumah.

Dalam kompetisi yang ketat, dapat melahirkan juara yang tangguh. Seperti tim besutan Joachim Low yang membusungkan dada dengan rasa bangga menjadi juara. Berbagai strategi, taktik, utak - atik formasi dimainkannya dengan apik. Sehingga mengantarkan Jerman sebagai kampiun Piala Dunia kemarin.

Jika kembali lagi dalam Pilkada yang hanya calon tunggal, lalu bagaimana keseruannya? Apa rasanya jika menjadi pemenang tanpa lawan? Tingkat adrenalin fans tanpa rival pendukung? Dan KPU meniup peluit panjang pertanda Pilkada Tangerang telah usai sebab tidak ada pertandingan. Serta calon tunggal dinyatakan menang tanpa jerih payah dan berkeringat di lapangan.

 

 

Berita Lainnya