Disbudpar Gelar Konferensi Kebudayaan Banten

 
Senin, 3/10/2016 09:08 WIB
Disbudpar Gelar Konferensi Kebudayaan Banten (Ilustrasi: )

LenteraNews – Serang – Guna menggali potensi budaya yang ada di Banten, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banten menggelar Konferensi Kebudayaan, di Hotel Le Dian Hotel, Kota Serang, Minggu (2/10). Kegiatan yang berlangsung pada 2-4 Oktober 2016 bertujuan untuk memberikan kesadaran masyarakat Banten akan pentingnya membangun jati diri dan identitas kultural Banten.

Kepala Disbudpar Banten Opar Sochari mengungkapkan, kegiatan tersebut  merupakan kali pertama diadakan, selain itu juga merupakan rangkaian hari jadi Provinsi Banten ke-16. Menurutnya, pihaknya ingin membawa kejayaan Banten pada masa lalu ke masa sekarang.

“Pada abad pertengahan, Banten sudah mencapai jaman keemasan, dimana kala itu Banten sudah punya mata uang, sudah punya pertanian, kebudayaan yang bagus, dan keagamaan yang menurut kami sangat luar biasa. Dan kita ingin kejayaan tersebut dapat terulang lagi pada masa sekarang,” kata Opar usai acara.

Menurut Opar, kebudayaan Banten saat ini kurang di kenal oleh generasi muda. Selain itu, dirinya berharap dari kegiatan ini dapat memberikan masukan-masukan positif yang dapat dipergunakan dalam membangun Banten ke depan ke arah yang lebih baik.

“Kegiatan ini selain untuk mengingat, tapi juga untuk berkaca. Bagaimana Banten sekarang, padahal waktu dahulu Banten sudah luar biasa berkembang,” jelasnya.

Berdasarkan SOTK baru, kata dia, ke depan peran kebudayaan nantinya akan diambil oleh Dinas Pendidikan.

“Mudah-mudahan kebudayaan nanti akan jadi salah satu yang akan di pelajari oleh generasi muda sebagai muatan lokal di sekolah. Dan ini merupakan upaya kita untuk meningkatkan SDM yang berkualitas khususnya, generasi muda untuk lebih mengenal budayanya sendiri,” paparnya.

Terkait upaya pelestarian kebudayaan, lanjut Opar, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya. Menurutnya, banyak warisan-warisan budaya baik itu benda mapun tak benda dari kejayaan Banten masa silam.

“Upaya kita sudah banyak, ada warisan tak benda semacam tari-tarian, Serentaun, Seba Baduy, lalu warisan benda, ada Sate Bandeng, Keraton Surosowan dan lain-lain,” ujarnya.

Dikatakan Opar, citra positif yang melekat pada masyarakat Banten di masa lalu tidak lepas dari peran Sultan Banten yang tidak hanya concern dalam bidang politik dan ekonomi tapi juga memberikan perhatian lebih dalam bidang keagamaan.

“Meskipun Islam menjadi simbol peradaban baru bagi masyarakat Banten saat itu, namun Sultan Banten tidak serta merta menghapus tradisi dan budaya lokal yang sudah ada jauh sebelum Islam masuk dan berkembang,” tutupnya.

Diinformasikan acara tersebut akan diisi sejumlah pembicara di antaranya Prof Azyumardi Azra, Prof Fauzul Iman, Prof Sholeh Hidayat, Dr Herawati Ongkoharma, Dr Daenulhay, dan Dr Mochamad Ali Fadilah. Kegiatan ini diikuti 100 peserta yang merupakan perwakilan dari delapan kabupaten/kota di Banten. (dhi)

Berita Lainnya